Ahlan Wa Sahlan! ^^
Rabu, 29 Februari 2012
Khadijjah binti Khuwailid
Senin, 15 Agustus 2011
Ramadhan day 15th
sudah setengah bulan nih!
purnama juga tak lagi benderang
kabut hitam baru saja menatang terang
seperti sangat menyukai bulan yang hendak berpendar
seperti menggoda.
namun, hilang di se-per-empat malam.
huh, absurd memang!
adakah tanya belum terjawab?
bahagia yang belum terluap?
tangis yang masih meng-endap?
semua peluh dan keluh,
mengaduh dalam satu bait panjang lantunan do'a yang menenangkan
menghabiskan 1 surah panjang dari juz 27 atau 29 pada tiap raka'atnya dan tenggelam dalam sujud panjang di se-per-tiga malam
bukankah ini merupakan salah satu perintahNya juga,
dalam kitab yang dibawa oleh Muhammad SAW 5 abad lalu
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring..."
dan kau juga kau melakukan itu sebagai salah satu bukti kecintaanmu terhadap Sang Khalik dan keturunan dari Sang Khalilullah; Ibrahim AS
dia manusia terbaik sepanjang masa.
penghulu para nabi, rasul, dan para syuhada
Ia manusia paripurna yang darinya-lah aku belajar bersyukur
kesyukuran atas segala nikmat yang tiada terhitung
membuncah pada dirinya yang membuatnya tidak pernah meninggalkan amalan-amalan sunnah
ia ridho kakinya menjadi bengkak karena sholat malam yang dilakukannya
ia sering mengganjal perutnya dengan kerikil yang membuat para sabahat menangis ketika mengetahuinya
bahkan ia lebih menyukai tidur dengan hanya beralaskan tikar dari anyaman daun yang dikeringkan
sementara para raja Persi dan Romawi tidur di atas kasur yang empuk yang nyaman juga permadani yang lembut
sabdanya: Afala akuna 'abdan syakuro?
***
Ramadhan hari ke-16
14 hari lagi purnama itu hilang
hanya ada sebuah lengkungan garis kuning keemasan yang terlihat samar
itu bulan baru!
Syawwal namanya.
yang berarti Ramadhan telah usai
dan kau berjanji akan kembali setelah tiga purnama, bukan?
setelah itu kau akan menunggu sumpahmu
dan kau yang lain...
Ku rasa kau masih berikhtiyar untuk takdir terbaikmu
di Jogja, Medan, atau Jepang
atau dalam takdir Allah yang lainnya
dan aku...
masih dengan label dan status yang sama seperti 5 tahun yang lalu
tenggelam dalam tumpukan naskah buram
berangka 100 tahunan
dan belum ada perubahan signifikan
apalagi berpenghasilan
Tenang!
aku tidak sedang meminta perhatian
agar kalian berempati dan merasa kasihan
aku hanya sedang menceracau tidak karuan
jangan dipikirkan.
hanya sedikit khawatir
akan kembali merasa kehilangan...
Kamis, 02 Juni 2011
MySt(e)ry=MySt(o)ry
Minggu, 01 Mei 2011
Fajar di Batas Senja (the Sequel)
ASIN (Akhowat Siap Nikah)
Awal tahun yang penuh berkah. Ternyata rowa’i yang dulu sempat ku tuliskan belum cukup membuat seluruh asrama berdecak kagum bahkan terkejut sampai sedikit kecewa dan memukul-mukul dada. Setelah beberapa hari yang lalu ada lagi rowa’i dengan subbab yang sama; Pernikahan. Ada wajah-wajah yang menjadi berbinar ketika berita itu sampai ke telinga mereka. Ada pula yang biasa saja setelah mendengarnya. Namun, agaknya ada satu ekspresi lain yang bukan keduanya. Tidak. Ini bukan ekspresi negatif. Lebih kepada situasi extraordinary bagi mereka yang sudah mempersiapkan dengan lebih lama dan matang. Mereka yang juga mengimpikan untuk segera meraih setengah dien, malah jadi terdahului. Sakit, sepertinya. Ada siratan keki di sudut wajah mereka tetapi tetap berbalut senyum khas dan candaan seperti biasanya. Namun, bagiku... tetap saja, terlihat. Bahkan dapat ku rasakan semakin jelas dan masuk ke dalam relung jiwa mereka. Mereka Iri. Hehe, hendak merasakan euforia yang sama terjadi pada dirinya. ini situasi yang positif dan konstruktif kok. Bisa dibilang wajar. Hanya saja mencoba berempati pada yang belum berkesempatan.
Memang sahabat-sahabat itulah yang sedang berusaha membaikkan diri mereka. Bukan hanya untuk perjalanan menuju proses sakral penuh makna itu. Namun, lebih kepada bagaimana mereka menyiapkan diri mereka bukan hanya menjadi seorang istri an sich melainkan juga mempersiapkan menjadi sosok pemikul peran luar biasa yang bahkan nyawa taruhannya; menjadi Ibu. Peran inilah yang sesungguhnya tidak mudah dan perlu waktu untuk belajar dan menyesuaikan dengan cepat. Peran ini pulalah yang terkadang kita lupakan sehingga terkadang membelenggu jiwa sebagian istri yang tidak siap dengan kehadiran sosok baru dalam rumah tangganya. Makanya, sydrom baby blues kerap menjadi ‘penyakit’ yang melanda mereka yang belum mempersiapkan jiwa mereka untuk menjadi seorang ibu. Bagi sebagian besar sahabat yang telah mempersiapkan diri, hal ini merupakan core dari kewajiban seorang wanita. Saya tidak berbicara gender disini. Saya berpikir bahwa pembahasan itu sudah selesai pada bab aqidah. [dikaji lagi ya ibu2 tentang rukun imannya!]
Pada akhirnya hal ini bukan hanya berkaitan dengan kesiapan, kemantapan, kematangan, ataupun keinginan menggebu yang berkorelasi positif dengan ikhtiyar [kesungguhan] dan do’a. Allah [pasti] akan memberikan hasil sesuai dengan usaha kita masing-masing kan. Jadi, bagi siapapun yang hendak segera menggenapkan diennya maka siapkanlah berbagai macam kesiapan. Orientasinya tidak hanya kesiapan materi (duniawi) saja tetapi juga kesiapan jiwa (psikologis), ruhiyah, keilmuan (mengerti fikh-fikh), kesiapan jasad (fisik), dan kesiapan-kesiapan lain yang bersifat teknis dan memiliki daya dukung yang relevan dan syar’i tentunya.
Catatan singkat ini sebenarnya sebagai refleksi dari rasa empati pada kepada dua orang teman asrama ku. do’aku semoga Allah menyegerakan untuk menggenapkan sebagian dien yang telah kalian impikan dan proyeksikan disetiap selipan percakapan ketika mengobrol. Ga’ tega sebenarnya melihat pancaran ketertarikan kalian ketika membahas mengenai bab itu ataupun ghiroh kesungguhan dalam menuntut ilmu yang luar biasa saat kuliah-kuliah fikh munakahat. Aku yakin Allah bukan tidak sayang dengan kalian dengan tidak mengabulkan do’a-do’a yang senantiasa kalian panjatkan di setiap sujud-sujud panjang kalian. Bukan pula Allah tidak mendengar dan memperhatikan lantunan do’a penghambaan yang khusuk dan merendah dari hambaNya seusai sholat. Aku yakin Allah punya rencana lain ukhti... dan engkau hanya butuh satu kalimat untuk menguatkan pendirianmu.. “Fashbir, shobron jamiil” maka bersabarlah dengan keindahan.. jika sudah datang waktunya tentu Allah tidak akan membuat kalian menunggu lagi. InsyaAllah akan segera ada yang menjemput kalian dengan hormat dan santun. Meminta dengan baik dan syar’i kepada ayahmu dan Murobbiyahmu (jama’ah) atas tanggung jawab yang akan dipikul selanjutnya atas dirimu dan anak-anak mu kelak.
Bersabarlah sebentar lagi, Ukh. Semoga keberkahan Allah akan turunkan kepada keturunan kalian kelak karena kesabaran atas proses yang telah Allah gariskan... sebab takdir tidak pernah tertukar. Ia hanya menunggu untuk hadir kepada siapa saja yang telah Allah tunjukkan kesiapan atas amanah yang akan diberikan kepadanya kelak. Itulah takdir. Jika Alah berkata “Kun!” maka tiada seorang makhluk pun yang mampu merubahnya. Wallahu’alam